31 December 2011

Antara Bakauheni dan Merak

Kriiiing.....halo, terdengar sebuah suara diujung telepon," Santi bisa kesini sebentar?" Aku pun berjalan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahku. Di sana sudah banyak berkumpul keluarga besar yang baru pulang dari tanah rantau. Kegiatan kumpul keluarga besar dan makan bersama yang sering dilakukan untuk menyambut family yang tinggal di luar kota kelahiran menjadi tradisi yang turun temurun. Canda tawa menghiasi ruangan 8 x 8 tersebut. Dari arah pintu depan, masuklah seorang pria -berkulit putih dengan senyum yang simpati. "Hai" sapanya sambil menjabat tanganku. "Hai" balasku sambil tersenyum. "O,ya kenalkan ini F,San"kata salah seorang saudaraku. "Kalian belum pernah ketemu kan?"katanya lagi. Aku pun mengganggukkan kepala mengiyakan. Beberapa jam kemudian, acara reuni pun berakhir. Dari balik jendela, terdengar suara hujan yang sangat deras dengan gemuruh yang menggelegar. Aku harus berpamitan kepada tuan rumah karena jadwal keberangkatanku ke kota tempat kuliahku sudah tiba. Tidak tega melihatku harus basah kuyup dibawah hujan deras tersebut, ia pun minta ke F untuk dapat mengantarku pulang.

Enam bulan sejak pertemuan dengan F, pada hari minggu tepatnya pada semester akhir masa perkuliahanku. Aku didatangi kedua orang tuaku dengan alasan menjenguk keadaan ku saat itu. Tanpa curiga sedikit pun, apapun yang mereka tanyakan aku jawab dengan jujur. "Kamu sekarang ada dekat dengan seseorang?"tanya ibuku.
"Sekarang lagi ga dekat dengan siapa-siapa,Bu. Kalau dengan X udah lama sih ga berhubungan." jawabku dengan polos. Ibuku pun hanya bergumam. Tampak sekali ia sangat berhati-hati berbicara denganku.
Keesokan harinya, "Nti, Ibu dan Papa kesini karena ada yang ingin kami diskusikan dengan kamu, tapi kami menyerahkan keputusannya kepada kamu, kami tidak akan memaksa." Mereka mulai membuka pembicaraan. Aku pun dengan kening berkrenyit dan dengan penuh tanda tanya belum faham dengan maksud ucapan mereka.
"Maksudnya apa ya, Bu?"tanyaku antusias.
"Masih ingat F kan?"balas ibuku.
"Ya, ada apa dengan dia?"
"Seandainya dia mau sama kamu, gimana?" tanya ibuku pelan.
Aku kaget, bingung, dan tidak menyangka sedikit pun pertanyaan seperti itu akan datang dari orang tuaku. "Bu, aku ga tau mau jawab apa. Soalnya sekarang aku lagi fokus dengan tugas akhir buat gelar sarjanaku." jawabku lagi.
"Oh, Ibu ga maksa kok. Inikan karena orang nanyain ke Ibu dan Papa. Jadi kami mau nanya kamu dulu, lagian bukan maksudnya mau langsung menikahi kamu."klarifikasi ibuku dengan spontan.
"Gini deh, Bu. Kenapa ga F nanya langsung dulu ke aku?" sahutku dengan nada sedikit kesal.
"Jadi, kamu ingin dia telp kamu?" tanya ibuku.
"Biarlah kami bicarakan dulu ya Bu, kalau rasanya cocok, aku akan beri tau Ibu dan Papa. Tapi kalau tidak, mohon kalian tidak marah." putusku.

Keesokan harinya, F pun menghubungiku. Ia pun menyampaikan niatnya untuk lebih mengenalku dan memintaku tidak keberatan kalau ia hubungi atau suatu saat ingin bertemu. Dengan penuh pertimbangan akhirnya aku bersepakat dengan F bahwasanya kami akan saling mengenal tapi tanpa status apapun, hingga takdir yang akan menentukan.

Sejak itu, hubungan pertemanan dengan F semakin mulus dan tanpa beban. Hingga kami memutuskan bertemu. Niat itupun aku sampaikan ke orang tua dan kakakku. Mereka menyarankan bertemu di Lampung karena salah seorang kakakku berada disana. Akhirnya aku berangkat ke Lampung ditemani orang tuaku.

Tibalah saatnya dimana aku akan bertemu dengannya. Menunggu didalam mobil dengan jantung berdebar-debar, dan mencoba mengingat wajah F, kalau-kalau nantinya aku salah mengenali wajah. Sambil terus mengamati wajah-wajah yang lewat dari balik kaca mobil, aku mulai salah tingkah dan perasaan yang berkecamuk.
"Pay, kayaknya aku sakit perut nih"kataku sambil memegang perut.
"Itu sih bukan sakit perut, kamu lagi stress dan nervous." tegas kakakku.
"Hmmmmm...kok lama banget ya..belum nyampe kali ya kapalnya." sambil mataku melihat wajah seseorang didepanku.
"Heh...ga salah...tuh depan muka lo siapa?" kata kakakku dengan tertawa.
"Manaaaaa...?"tanyaku.
"Tuh...depan hidung lo. Ayo turun dia udah sampai." ajak si Upay.
"Hahahahahhaa...."F pun ikut tertawa ketika tahu orang yang saling lihat tadi adalah aku dan dia.

Pertemuan demi pertemuan pun kami jalani masih tanpa status yang jelas. Antara Bakauheni dan Merak.

Medio Juli, ketika undangan ke tanah kelahirannya aku peroleh dari keluarga besarnya yang memang tinggal di kota tersebut, dan ketika keyakinanku sudah terpatri, aku dan keluargaku berlibur disana. Momen yang tak pernah terlupakan dalam hidupku...
"Bagaimana tanggapanmu, apakah hubungan ini mau kita seriuskan?"Tanya F dengan senyum khasnya.
"Sepertinya kita satu persepsi kedepan, dan sejauh ini kita cocok. Kalau begitu, kenapa tidak." kataku lugas.
Ia tersenyum penuh arti...

Hari yang dinantikan tiba, dimana semua kisah-kisah masa silam harus dikubur dalam-dalam, akhir perjalanan cinta berakhir dengan kebahagiaan, keceriaan, kedewasaan, tanggung jawab dan komitmen. Selalu menyambut hari demi hari dengan pembaharuan, gelak tawa, kesabaran, dan optimisme.


( Didedikasikan khusus untuk Seseorang yang teramat spesial, dan teman-teman seperjuangan, hidup itu selalu punya cerita, berbahagialah pada saat bersedih, bersedihlah ketika sedang berbahagia.)


posted by Dewi Rika Susanti

No comments:

Post a Comment