19 September 2012

Kisahku di SMA


Berbeda dengan teman-temanku yang punya kenangan indah ketika di SMA, bagiku masa SMA adalah masa yang paling berat dalam hidupku, dimana aku harus berjuang keras demi kehidupanku nanti. Aku punya cita-cita tinggi, motto hidupku saat itu ' suatu saat aku harus bisa jadi orang kaya'. Terus terang mottoku ini mungkin terkesan agak sedikit memaksakan diri, tapi memang begitulah kehidupanku saat itu.

Ayahku meninggal dunia ketika aku duduk dikelas dua SMP. Sebelum musibah itu terjadi aku tidak terlalu memikirkan kehidupanku, karena bisa dikatakan saat itu aku mempunyai kehidupan yang sangat menyenangkan, punya orang tua yang bisa mencukupi semua kebutuhanku, punya banyak teman untuk happy- happy selalu, seringkali aku bolos les hanya karena ingin ngumpul sama teman se-geng ku..........

Aku sangat ingat sehari sebelum kepergian Ayahku, beliau menatapku tajam dan dalam, waktu itu aku lagi bermain dengan adikku ( Eko 4th, adikku satu satunya). Aku jadi berfikir panjang, apa maksud dari tatapan itu, sampai keesokan harinya waktu itu hari Jum'at saat Maghrib, Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu itu aku hanya tertegun diam, tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada air mata yang keluar dari mataku, hanya tatapan beliau kepadaku yang masih terus teringat. Setelah aku naik kelas 3 SMP, aku baru mengerti apa maksud tatapan ayahku pada saat saat terakhir hidupnya, 'aku harus berjuang untuk hidupku dan aku harus bertanggung jawab untuk adikku'. Mulai saat itu aku mulai berkonsentrasi pada sekolahku.

Bicara tentang kisah cintaku, sebenarnya dari kelas satu SMP aku sudah ada rasa suka pada seseorang di kelasku, begitu juga ketika aku duduk di kelas satu SMA, aku juga punya rasa suka sama teman sekelasku. Tapi sayangnya dia tidak punya nyali untuk berhadapan denganku, yang akhirnya dia 'nembak'setelah minum beberapa..... Aromanya sangat jelas waktu itu, karena posisiku tepat didepannya, akhirnya aku urungkan niatku untuk punya pacar, biarlah..... Aku bisa kok ngejalanin semua ini sendiri,toh dia belum tentu jodohku.......

" Kisah ku di SMA "

Hari terus berganti........, aku menyadari klo sebenarnya keinginanku untuk punya kekasih hanyalah sekedar luapan emosi sesaat karena ada rasa iri terhadap orang disekitarku yang dengan mudahnya mendapatkan cowok (dalam hati aku berkata, apa sih kelebihan mereka sehingga aku jadi berbeda??)

Sampai pada saat itu ada celah yang terbuka antara aku dan Robb-ku, aku mulai menikmati sholatku, yang sebelumnya aku suka bolos bahkan terpaksa menjalankannya, aku membiasakan diri untuk bangun tengah malam untuk sujud pada-Nya,setelah itu aku belajar dan tidur kembali untuk bangun sebelum subuh.

Aku jadi menikmati hari-hariku, ke sekolah terasa menyenangkan sekali, apalagi aku jadi orang yg pertama kali buka pintu, menunggu dan menyapa teman-teman yang baru datang terasa menyenangkan sekali.

Jadwalku padat, sepulang sekolah aku mengerjakan semua tugasku di rumah setelah itu aku pergi latihan paskibra, pramuka dan les bahasa inggris, capek memang tapi aku sangat menikmatinya.

Sudah saatnya kenaikan kelas, aku memilih untuk begabung dikelas ilmu sosial, ternyata pilihanku menjadi kontradiktif dengan pilihan para guru, yang menurut mereka aku lebih cocok dikelas IPA. Sebenarnya aku sangat ingin jadi dokter, tapi aku sadar hal itu tidak mungkin dengan kondisi keuanganku saat itu, tapi kalau dilihat dari nilai IPA ku yang jauh di atas rata-rata dan di bandingkan dengan nilai sosialku yang hanya sedikit diatas rata-rata aku jadi berkali- kali di introgasi oleh para guru yang waktu itu sangat kecewa dengan pilihanku. Tapi tekatku sudah bulat,aku bergabung di kelas sos1, semester pertama aku jalani dengan sangat berat, aku sempat kewalahan karena banyak sekali hapalan, tapi Alhamdulillah ada beberapa mata pelajaran hitungan yang menyelamatkanku, peringkat kelasku TURUN aku jadi sedikit nervous tapi semua harus aku hadapi karena ini adalah pilihanku.

Setiap malam selesai ibadah,aku merenung mencoba memikirkan tentang hal yang harus aku lakukan untuk masa depanku, aku tidak mau terkurung di Kerinci selamanya (aku suka Kerinci,tapi aku tidak mau menjadikannya tempat tinggalku sampai hari tuaku, kalau untuk pulang sesekali aku sangat suka karena setelah tinggal di beberapa kota di Indonesia, hanya Kerinci yang ada di hati ku). Aku mulai bercita cita untuk tidak menetap di Kerinci, tidak bekerja di Kerinci apalagi menikah dengan orang Kerinci atau pun seseorang yang menetap di Kerinci.

Disela aktifitasku yang padat aku menyempatkan untuk bikin usaha kecil-kecilan, aku jual kerupuk pedas, sebagian kujual di sekolah dan sebagian aku titip di warung dekat rumahku, penghasilanku lumayan, semuanya aku tabung di Bank. Waktu itu aku seperti hidup sebagai gadis pemimpi, semua aku jalani dengangembira.

Ternyata gaya hidupku membuat aku menjadi dijauhi teman sekelasku,bukan karena aku sombong tapi menurutku mereka tidak tau tentang apa yang terjadi dalam hidupku. Terasa pedih sekali ketika mendengar dan tahu kalau selama ini teman sekelasku sangat membenciku, padahal bagiku adalah hal terindah karena mengenal mereka, tapi aku yakin suatu saat Allah akan membukakan hati mereka untukku.

Naik ke kelas 3, nilaiku sudah mulai meningkat, akhirnya aku bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran ilmu sosial, bahkan aku jadi sangat tertarik dengan mata pelajaran akutansi, setiap tengah malam aku selalu berlatih cepat mengerjakannya, Alhamdulillah aku berhasil mengerjakan neraca lajur dalam waktu 30 menit yang mana rata-rata temanku mengerjakannya dalam waktu 2 jam atau lebih. Guru-guru banyak yang menyemangatiku dan mereka banyak yang memperhatikan kemajuanku, begitu juga teman sekelasku sekarang sudah sayang padaku karena sering aku kasih contekan hi..hi...

Anehnya selesai bermasalah dengan teman sekelas kini aku dihadapkan dengan masalah yang lebih besar yang datang dari teman-teman kelas lain. Setiap kali ada rapat antara ketua kelas untuk pemilihan senat atau Dewan UKM (maaf aku lupa istilahnya), aku gak pernah diikut sertakan padahal aku kan ketua kelas, dan lucunya baru kemaren ini aku tahu lewat FB ketua UKM waktu di SMA. Memang aku adalah satu-satunya ketua kelas wanita saat itu,barangkali itulah yang membuatnya berbeda.........

Sampailah di penghujung masa SMA, waktu itu ada rapat semua pengurus kelas, ada seorang teman dari kelas Bio yang mengusulkan padaku untuk memakai uang koperasi untuk biaya perpisahan,karena suaranya kecil maka aku menjadi penyambung ide temanku itu, waktu itu semua setuju. Tapi aku dikejutkan dengan panggilan salah seorang guru,aku di introgasi di tuduh telah menjadi PROVOKATOR para siswa untuk menentang dewan koperasi yang waktu itu di pegang oleh beberapa orang guru, dalam hati aku berfikir “ Kok jadi sericuh ini? Bukankah siswa yang sudah tamat memang berhak untuk mengambil kembali uang koperasi mereka? Lalu kenapa sekarang aku jadi tertuduh? Bukanya ini keputusan bersama?”

Belakangan aku tahu kalau ada beberapa ketua kelas lain yang menghadap para guru dan nota bene menjadikanku sebagai siswa pemberi ide dan memprofokasi semua siswa untuk menuntut pengembalian uang koperasi. Aku KECEWA bahkan tidak bisa aku terima sama sekali dengan nalarku, “Kok ada cowok yang bisa ngomong begitu ya??” Sampai sekarang aku masih menyimpan pertanyaan itu dan akhirnya bisa aku tuangkan disini.

Tapi aku sangat berterima kasih dengan teman sekelasku yang selalu bersama-sama mendukungku, bahkan ikut mogok belajar karena tidak rela atas perlakuan dewan guru terhadapku.

Semua teman-temanku di 3 Sos1 baik-baik dan lucu-lucu, setiap hari ada saja tingkah mereka yg bikin aku ketawa, setiap hari terasa ceria dan menyenangkan, bahkan kalau mau disamain. ........kaya OVJ zaman sekarang, Barangkali kalau mereka ikut audisi pelawak. ....hmmm menurutku mereka bisa, ha..ha.......

Menjadi ketua kelas di 3 Sos1 sebenarnya gampang-gampang susah, susahnya......; kalau pagi di absen ada (hadir), tapi kalau dicari guru mereka pada gak ada, nah kalau gampangnya..... ; tinggal nyari di kantin.....pasti ada ha....ha....

Trus kalau setiap bulannya aku harus mikir panjang gimana cara mengurangin jumlah huruf a(alpha) di absen karena kasihan sama mereka....... ada beberapa orang yang suka nyogok aku (dibeliin bakso sama es campur) biar aku mau ngurangin jumlah alphanya, hmmmmm.....aku lupa waktu itu diterima apa ditolak ya?? (swear....aku benar benar gak ingat, bukannya untuk mengaburkan kalau aku punya bakat.....hi...hi..).
Ada lagi yang suka ngasih aku kue (thanks Eka), hampir setiap hari Eka ngasih aku dua kue, tapi kue itu gak aku makan melainkan aku bawa pulang untuk ku hadiahkan buat adik kesayanganku yang waktu itu baru kelas dua SD. Ada kalanya aku nyicip sedikit tapi aku lebih sayang adikku, jadi aku selalu hadiahkan kue-kue itu untuknya.

Tanpa terasa sudah sampai di penghujung pendidikanku bersekolah di SMA Negeri 1 Sungai Penuh, di hari perpisahan aku sengaja terlambat datang karena waktu itu di toko lagi rame pembeli, jadi aku menyempatkan diri membantu Ibu dan kakakku di toko dan sekitar jam 10 pagi baru aku ke sekolah. Waktu itu seperti biasa aku selalu semangat untuk melangkahkan kakiku kesekolah. Sesampainya di sekolah ternyata acara sudah lama dimulai, aku berjalan memasuki gerbang, waktu itu aku langsung bertemu barisan guru yang sedang duduk mengikuti acara, aku minta permisi karena harus melewati mereka dulu untuk sampai ke posisi teman-temanku.

Saat itu aku KAGET semua guru yang aku lewati menyalami dan mengucapkan 'selamat' Bulu romaku jadi merinding ( bukan karena takut hantu ya....), aku jadi bertanya dalam hati ' bukannya pengumuman kelulusan belum di umumkan??', Ketika sampai di depan Pak Bungkarman, beliau memberitahuku kalau ternyata aku lulus dan diterima menjadi siswa undangan di UGM untuk jurusan Ekonomi. Terus terang waktu itu rasanya mau pingsan, lututku rasanya mau lepas, aku nggak tahan menahan air mata, sambil menangis aku selesaikan menyalami semua guru dan beberapa temanku. 

Setelah itu aku langsung pergi ke belakang ( ke samping labor kimia dekat mushola ) disana aku nangis sendirian. Sebenarnya aku senang karena bisa lulus dan di terima di UGM, dan itu memang cita citaku semenjak dulu, tapi........... itu tidak mungkin bagiku, bagaimana mungkin aku bisa kesana...........
Aku berusaha mengendalikan emosiku dan aku kembali bergabung dengan teman temanku untuk menyelesaikan acara perpisahan saat itu.

Pulang sekolah seperti biasa aku ke toko bantuin Ibu dan kakakku, aku gak tahu harus ngomong apa, tapi akhirnya aku beranikan diri untuk ngasih tau perihal kelulusanku. Ibuku hanya bisa mendengarkan tanpa bisa menjanjikan sesuatu untukku........ saat itu perasaanku sangat sedih sekali, karena aku ingin sekali menjadi orang yg sukses dan memberikan sesuatu yg berharga untuk orang tuaku, dan menjadikan adikku orang yg sukses dimasa depannya nanti.
Malam hari aku tetap mekukan ibadah dengan lebih mendekatkan diriku dengan Allah, aku berdoa meminta jalan keluar yg lebih baik, karena aku percaya Robb ku lebih tau apa yang terbaik untukku.

Besoknya terpikir olehku untuk menjadi TKW, aku pikir setelah jadi TKW aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah ku. Lalu aku pergi ke DEPNAKER untuk nyari tau gimana caranya supaya bisa jadi TKW, petugas disana nyaranin aku untuk ke lembaga yang sudah bekerjasama dengan Depnaker, aku langsung ke lembaga itu yang waktu itu lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku. Di sana aku mendapat informasi kalau aku harus nyediain uang 500 ribu, alamak........aku bingung lagi, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu??

Beberapa hari kemudian sampailah pada acara pengumuman kelulusan, seperti biasanya ada ceremony semprot-semprot tinta dan bikin tanda tangan dibaju sekolah. Kegiatan itu hanya aku nikmati dari jauh, aku berdiri di depan kelas 1D bersama beberapa orang teman yang tidak mau ikut corat-coret. Aku masih saja berpikir keras tentang langkah apa yang harus aku lakukan. Pernah juga terpikir olehku untuk meminjam uang sama orang kaya asal kampungku, tapi beliau menetap di Jakarta, bagaimana aku kesana?? Uang tabunganku kan nggak seberapa. 

Saat itu ada Medy didekatku, (Nelya, Medy dan aku adalah siswa yang lulus dan diterima sebagai siswa undangan di UGM saat itu), aku coba nanya ke Medy berapa minimal dia bawa uang untuk pergi ke Jogja, waktu itu medy bilang 'minimal 1 juta Mel, karena kita baru pertama dan banyak hal yang harus dipersiapkan', HAH.......1 juta, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu..................Wah saat itu air mataku langsung ngucur, aku agak menjauh dari teman-temanku biar gak ada yg liat aku nangis. Tapi ternyata Eka melihatku dan langsung menghampiriku, “Mel kenapa nangis? Ada apa? Ayo cerita sama Eka”, Begitulah Eka..... dia adalah teman yang penuh perhatian (thanks a lot, Ka). Karena bagiku aku sudah gak bisa nahan lagi masalahku, akhirnya aku cerita semuanya sama Eka, kalau aku gak mungkin ke Jogja karena tabunganku gak cukup.

Beberapa hari setelah itu ketika mau bikin cap jempol untuk NEM dan STTB bapak Kepala Sekolah menyampaikan satu lagi berita duka bagiku ' aku lulus dan diterima di UNAND sebagai siswa undangan', huh...... ini benar benar masalah besar bagiku, bagaimana mungkin aku bisa lulus untuk kedua pilihanku?? Seandainya saja aku nggak lulus disana semua ini tidak akan menjadi seberat ini. Pulang sekolah kuayunkan kakiku dengan langkah gontai, kakiku serasa tidak menyentuh tanah, hhhhhh....saat itu aku serasa putus asa, ada pertanyaan besar di diriku 'AKU HARUS BAGAIMANA?'

Kebetulan Ibuku lagi dirumah, aku langsung nangis sama beliau, aku benar benar nggak tau harus gimana lagi.
Keesokan harinya aku nggak ke sekolah, seperti biasanya aku ngurus adikku yang mau ke sekolah, kemudian aku masak kerupuk daganganku. Pas selesai masak waktu itu belum terlalu siang, Eka datang kerumahku nanyain kenapa aku tadi nggak ke sekolah, dia mengeluarkan amplop dan kertas yg berisi nama-nama, “Mel, Eka dan teman teman dan para guru berharap uang ini bisa membantu Imel untuk bisa melanjutkan kuliah”. Oh Eka......... aku saat itu benar benar nggak tau harus ngomong apa, aku benar-benar berterima kasih bahkan sampai sekarang kertas yang berisi nama-nama itu aku simpan untuk menjadi kenanganku sampai nanti, (sekali lagi thanks ya Ka).

Aku ambil tabunganku, ditambahkan dengan uang sumbangan itu aku sudah pegang uang sekitar 400ribu, aku sangat senang, aku langsung sampaikan maksudku pada Ibuku bahwa sudah bulat tekatku untuk kuliah, tapi sepertinya aku ambil yang di Unand saja mengingat jumlah uang yang kupunya. Alhamdulillah salah satu kakak laki lakiku (Da Hen) terbuka hatinya, dia nambahin 200 ribu, dan dia janji mau bantu uang kuliahku, alhamdulillah.

Akhirnya pada waktunya, aku berangkat ke Padang waktu itu barengan sama teman SD ku yang mau ikut test UMPTN, kakakku ,ibuku dan adikku melepasku. Di dalam perjalanan aku berkhayal tentang sebuah mimpi besar yang ingin aku wujudkan. Semalaman aku nggak tidur, aku selalu melongokkan mataku keluar menatap bintang- bintang yang bersinar, sepertinya mereka tau apa yang aku pikirkan.

Alhamdulillah Bu Admin, akhirnya tulisan ini selesai juga, sebenarnya sejak lama ingin nulis tapi berat rasanya untuk mengingat kembali semua kejadian yang telah lalu


posted by Emilia Susanti

No comments:

Post a Comment