31 December 2011

Reuni di Penghujung Tahun 2011

Mendadak, spontan dan tidak terencana dengan matang karena ada EVA... heheheheheee...

Berkat kegigihan dan keuletan dari Ketua Panitia Eka Primayanti dan kawan-kawan akhirnya acara ini terlaksana juga meskipun ada beberapa kendala seperti penentuan hari yang berubah-rubah setiap saat mengingat MINI REUNI ini dilaksanakan pada penghujung tahun 2011 tepatnya pada tanggal 30 Desember 2011 dan bertepatan dengan waktu liburan anak sekolah sehingga banyak diantara teman-teman yang sebelumnya diperkirakan bisa hadir ternyata tidak bisa hadir dengan alasan bawa anak-anak liburan sekaligus menyambut tahun baru di luar daerah dan dengan berbagai alasan kesibukan masing-masing lainnya....

Namun meskipun begitu acara tetap bisa terlaksana dengan seru karena hadirnya alumni-alumni baru yang pada saat REUNI dan BUKA BERSAMA TAHUN 2011 yang lalu tidak muncul... namun sekarang muncul.... Seperti EVA MARLINA ehmm..., ELVA SUSANTI, Si Semox... RIVI HAMDANI, NUGRA HERI...

Namun ada sedikit kekecewaan dari para hadirin karena adanya pembatalan kehadiran dari JOANCHE ALBERTO... yang seharusnya tokoh sentral pada acara hari ini dikarenakan Sakit (Demam Puyuh)... heheheheheheee... serta pembatalan kehadiran dari YESSY NIRMALA DEWI.... Uuuuuuffffttttt... hikz.... wkwkwkwkwkk...

Berikut nama alumni yang hadir :

1.    Eka Primayanti
2.    Emelia Dewi
3.    Elva Susanti
4.    Meri Aprida
5.    Herlina Doank
6.    Nugra Heri
7.    Rino Sumardi (Febrino Satria Utama)
8.    Rivi Hamdani
9.    Adhe Garonk






posted by Ade Chandra

Renungan Tentang 16 Tahun Yang Lalu

Terinspirasi : dari photo teman-teman
(maaf banyak wajah-wajah itu terlupakan dan sekarang teringat kembali)

Dan ternyata kita sudah lama tertidur, 15 bahkan 16 tahun lebih. Tidur yang teramat lelap sehingga apapun tak mampu menggaduhnya. Kita tak peduli kemana sahabat-sahabat pergi dan kembali. Sementara Tuhan telah menerbitkan dan menenggelamkan matahari ratusan kali banyaknya. Canda kita yang lama perlahan surut dan membeku, hati kita hampir saja tidak mengenal satu sama lain.

Adakah kita ingat? Sepasang remaja berkenalan di ujung jalan RE. Martadinata 15 tahun yang lalu kini telah mejalin hubungan keluarga dan melahirkan anak-anak yang riang. Dua sahabat bertengkar dan saling memaki demi seorang perempuan, si perempuan mengatakan “akulah madu”. Pagar sekolah sekarang telah berganti menjadi jeruji yang kokoh. Penjual bakso disamping sekolah kitapun sudah gulung tikar atau pulang ke desa asal. Begitu juga janji kita akan mengembalikan buku catatan kimia, fisika atau apa saja. Pekerjaan rumah yang tidak rampung. Gemeresik sapu dalam ruangan kelas pagi hari menyentak kita untuk berpikir, bahwa kita sudah remaja….adakah kita ingat?

Aku harus berkata lebih jauh lagi: tahun 1995 perpisahan mulai terjadi..mereka yang tadinya berikrar untuk bersama akhirnya mencari ruang lain untuk melepaskan diri dari kesetiaan. Betapapun indah hari itu, kita tidak tertawa..wajah kita telah terpatri pada keteguhan niat dan idealisme untuk cita-cita. Tidak ada yang perlu dinasehati lagi, perlahan-lahan persahabatan itu lepas dan meninggalkan tanda-tanda yang sedikit.


posted by M.Aman

Ini deritaku, apa deritamu?

Minggu ini saya sukses ditubo oleh orang-orang tak bertanggung jawab, Gerombolan Siberat (ndak ngecek Rivi do. . .), bahkan sampai ke status di wall saya (kejam!), tanpa bisa menangkis dengan tangkas.
Hal ini tak lain dan tak bukan karena masalah teknis belaka. Oh, kenapa pada saat begini di laptop harus ada masalah install modem, padahal pulsa sengaja dipoll sebagai amunisi untuk berperang.
Walhasil, saya harus cukup puas hanya membalas dg hape yang Powered by Mito Layar Sentuh.
Nasib. . .nasib. . .
Ini deritaku, apa deritamu?. . .
Hiks. . .hiks. . . . .


posted by Meri Aprida

Pendapat Kiwi Tentang Group FB Alumni

Saya cukup bangga dengan group ini, tetap ramai dengan tubonya, silaturahmi terikat erat. Bagi saya pribadi pertemanan adalah sesuatu yg lebih dari persaudaraan. Perbedaan dan minoritas yang membawa saya mencari jawaban dari nilai-nilai minoritas itu, sehingga mampu berjalan jauh untuk mengungkapkan jati diri dan mencari penyebab dari minder yang saya derita sebelumnya. Banyak berjalan mengajari saya masih banyak ketimpangan pandangan manusia terhadap manusia yang lain tentang rasis. Tetapi ketika masuk ke komunitas yang fokus pada hasil dan perbuatan, bukan pada pencitraan dan siapa yang berbuat, membuat saya mengenal banyak filosofi hidup tentang menghargai sesama manusia, menghargai mereka yg tidak setuju bahwa Tuhan itu ada, menghargai kalau mereka memilih sebuah jalan untuk menggelandang dari pada hidup dalam kemapanan, menghargai setiap prinsip hidup yang telah di pilih oleh mereka.

Penghargaan akan prinsip hidup ini cukup kelihatan disini, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan lingkungan , kita kembali berkumpul sebagai teman-teman yang mengulang kembali perjalanan belasan tahun yang lalu. Disini kelihatan karakter dan kedewasan mereka yang mampu menghadapi riak waktu, menghargai kedewasaan teman yang tidak bisa menubo, dan coba menghindari penubo…. thanks kawan-kawan…. karena kehidupan saya di branding, maka group ini salah satu group yang saya jadikan studi kasus …… yang sampai saat ini mampu mengalahkan beberapa group pencitraan yang awalnya kelihatan kuat tapi mulai melemah karena dasar yg tidak jelas…. lanjutkan bu admin… 5 jempol untuk bu admin yg selalu memandu dengan setia… beserta kelompok tubonya yg selalu on line...


posted by Riswandi Sudarsho (Kiwi)

Antara Bakauheni dan Merak

Kriiiing.....halo, terdengar sebuah suara diujung telepon," Santi bisa kesini sebentar?" Aku pun berjalan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahku. Di sana sudah banyak berkumpul keluarga besar yang baru pulang dari tanah rantau. Kegiatan kumpul keluarga besar dan makan bersama yang sering dilakukan untuk menyambut family yang tinggal di luar kota kelahiran menjadi tradisi yang turun temurun. Canda tawa menghiasi ruangan 8 x 8 tersebut. Dari arah pintu depan, masuklah seorang pria -berkulit putih dengan senyum yang simpati. "Hai" sapanya sambil menjabat tanganku. "Hai" balasku sambil tersenyum. "O,ya kenalkan ini F,San"kata salah seorang saudaraku. "Kalian belum pernah ketemu kan?"katanya lagi. Aku pun mengganggukkan kepala mengiyakan. Beberapa jam kemudian, acara reuni pun berakhir. Dari balik jendela, terdengar suara hujan yang sangat deras dengan gemuruh yang menggelegar. Aku harus berpamitan kepada tuan rumah karena jadwal keberangkatanku ke kota tempat kuliahku sudah tiba. Tidak tega melihatku harus basah kuyup dibawah hujan deras tersebut, ia pun minta ke F untuk dapat mengantarku pulang.

Enam bulan sejak pertemuan dengan F, pada hari minggu tepatnya pada semester akhir masa perkuliahanku. Aku didatangi kedua orang tuaku dengan alasan menjenguk keadaan ku saat itu. Tanpa curiga sedikit pun, apapun yang mereka tanyakan aku jawab dengan jujur. "Kamu sekarang ada dekat dengan seseorang?"tanya ibuku.
"Sekarang lagi ga dekat dengan siapa-siapa,Bu. Kalau dengan X udah lama sih ga berhubungan." jawabku dengan polos. Ibuku pun hanya bergumam. Tampak sekali ia sangat berhati-hati berbicara denganku.
Keesokan harinya, "Nti, Ibu dan Papa kesini karena ada yang ingin kami diskusikan dengan kamu, tapi kami menyerahkan keputusannya kepada kamu, kami tidak akan memaksa." Mereka mulai membuka pembicaraan. Aku pun dengan kening berkrenyit dan dengan penuh tanda tanya belum faham dengan maksud ucapan mereka.
"Maksudnya apa ya, Bu?"tanyaku antusias.
"Masih ingat F kan?"balas ibuku.
"Ya, ada apa dengan dia?"
"Seandainya dia mau sama kamu, gimana?" tanya ibuku pelan.
Aku kaget, bingung, dan tidak menyangka sedikit pun pertanyaan seperti itu akan datang dari orang tuaku. "Bu, aku ga tau mau jawab apa. Soalnya sekarang aku lagi fokus dengan tugas akhir buat gelar sarjanaku." jawabku lagi.
"Oh, Ibu ga maksa kok. Inikan karena orang nanyain ke Ibu dan Papa. Jadi kami mau nanya kamu dulu, lagian bukan maksudnya mau langsung menikahi kamu."klarifikasi ibuku dengan spontan.
"Gini deh, Bu. Kenapa ga F nanya langsung dulu ke aku?" sahutku dengan nada sedikit kesal.
"Jadi, kamu ingin dia telp kamu?" tanya ibuku.
"Biarlah kami bicarakan dulu ya Bu, kalau rasanya cocok, aku akan beri tau Ibu dan Papa. Tapi kalau tidak, mohon kalian tidak marah." putusku.

Keesokan harinya, F pun menghubungiku. Ia pun menyampaikan niatnya untuk lebih mengenalku dan memintaku tidak keberatan kalau ia hubungi atau suatu saat ingin bertemu. Dengan penuh pertimbangan akhirnya aku bersepakat dengan F bahwasanya kami akan saling mengenal tapi tanpa status apapun, hingga takdir yang akan menentukan.

Sejak itu, hubungan pertemanan dengan F semakin mulus dan tanpa beban. Hingga kami memutuskan bertemu. Niat itupun aku sampaikan ke orang tua dan kakakku. Mereka menyarankan bertemu di Lampung karena salah seorang kakakku berada disana. Akhirnya aku berangkat ke Lampung ditemani orang tuaku.

Tibalah saatnya dimana aku akan bertemu dengannya. Menunggu didalam mobil dengan jantung berdebar-debar, dan mencoba mengingat wajah F, kalau-kalau nantinya aku salah mengenali wajah. Sambil terus mengamati wajah-wajah yang lewat dari balik kaca mobil, aku mulai salah tingkah dan perasaan yang berkecamuk.
"Pay, kayaknya aku sakit perut nih"kataku sambil memegang perut.
"Itu sih bukan sakit perut, kamu lagi stress dan nervous." tegas kakakku.
"Hmmmmm...kok lama banget ya..belum nyampe kali ya kapalnya." sambil mataku melihat wajah seseorang didepanku.
"Heh...ga salah...tuh depan muka lo siapa?" kata kakakku dengan tertawa.
"Manaaaaa...?"tanyaku.
"Tuh...depan hidung lo. Ayo turun dia udah sampai." ajak si Upay.
"Hahahahahhaa...."F pun ikut tertawa ketika tahu orang yang saling lihat tadi adalah aku dan dia.

Pertemuan demi pertemuan pun kami jalani masih tanpa status yang jelas. Antara Bakauheni dan Merak.

Medio Juli, ketika undangan ke tanah kelahirannya aku peroleh dari keluarga besarnya yang memang tinggal di kota tersebut, dan ketika keyakinanku sudah terpatri, aku dan keluargaku berlibur disana. Momen yang tak pernah terlupakan dalam hidupku...
"Bagaimana tanggapanmu, apakah hubungan ini mau kita seriuskan?"Tanya F dengan senyum khasnya.
"Sepertinya kita satu persepsi kedepan, dan sejauh ini kita cocok. Kalau begitu, kenapa tidak." kataku lugas.
Ia tersenyum penuh arti...

Hari yang dinantikan tiba, dimana semua kisah-kisah masa silam harus dikubur dalam-dalam, akhir perjalanan cinta berakhir dengan kebahagiaan, keceriaan, kedewasaan, tanggung jawab dan komitmen. Selalu menyambut hari demi hari dengan pembaharuan, gelak tawa, kesabaran, dan optimisme.


( Didedikasikan khusus untuk Seseorang yang teramat spesial, dan teman-teman seperjuangan, hidup itu selalu punya cerita, berbahagialah pada saat bersedih, bersedihlah ketika sedang berbahagia.)


posted by Dewi Rika Susanti